-
admin
- November 20, 2024
SEJARAH SINGKAT KELURAHAN
KABONENA
Mayoritas suku masyarakat Kota Palu adalah suku Kaili, suku ini awalnya bermukim atau
bertempat tinggal di dataran tinggi dan sering berpindah-pindah. Konon dahulu dataran Palu
ditutupi oleh laut dan dalam perkembangannya mulai ada daratan di wilayah pesisir sehingga
masyarakat Kaili mulai bermukim di dataran tersebut diikuti dengan adanya sebuah teluk.
Kabonena juga dikenal sebagai daerah wisata religi oleh masyarakat Palu, adanya makam Raja di
dataran tinggi yang juga memiliki potensi pariwisata, dari lokasi makam tersebut dapat melihat
pesona indah Kota Palu dari ketinggian apalagi pada sore hingga malam hari saat lampu-lampu
rumah di tengah kota mulai bersinar menyambut hari yang gelap layaknya bintang
Kelurahan Kabonena merupakan kelurahan yang terletak di bagian barat Kota Palu,
yang merupakan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Kabonena dikenal sebagai wilayah
yang berkaitan erat dengan awal mula sejarah penyebaran agama Islam di Lembah Palu
(dikatakan lembah karena letaknya yang dikelilingi pegunungan). Kabonena memiliki peran
dalam penyebaran Agama Islam yang sekarang banyak dianut oleh masyarakat Kota Palu,
yang dulunya kebanyakan memiliki kepercayaan Animisme. Seperti beberapa masyarakat
lainnya yang ada di Nusantara, pada masa itu masyarakat suku Kaili juga masih menganut
kepercayaan animisme/dinamisme yang mana mereka biasnya menyebut “tumpuna” atau
dalam bahasa Indonesia ‘penunggunya’, dimana mereka mempercayai adanya makhluk
yang menunggui atau bertempat di benda-benda yang dianggap keramat.
Mayoritas suku masyarakat Kota Palu adalah suku Kaili, suku ini awalnya bermukim atau
bertempat tinggal di dataran tinggi dan sering berpindah-pindah. Konon dahulu dataran Palu
ditutupi oleh laut dan dalam perkembangannya mulai ada daratan di wilayah pesisir sehingga
masyarakat Kaili mulai bermukim di dataran tersebut diikuti dengan adanya sebuah teluk.
Kabonena juga dikenal sebagai daerah wisata religi oleh masyarakat Palu, adanya makam Raja di
dataran tinggi yang juga memiliki potensi pariwisata, dari lokasi makam tersebut dapat melihat
pesona indah Kota Palu dari ketinggian apalagi pada sore hingga malam hari saat lampu-lampu
rumah di tengah kota mulai bersinar menyambut hari yang gelap layaknya bintang
Mayoritas suku masyarakat Kota Palu adalah suku Kaili, suku ini awalnya bermukim atau
bertempat tinggal di dataran tinggi dan sering berpindah-pindah. Konon dahulu dataran Palu
ditutupi oleh laut dan dalam perkembangannya mulai ada daratan di wilayah pesisir sehingga
masyarakat Kaili mulai bermukim di dataran tersebut diikuti dengan adanya sebuah teluk.
Kabonena juga dikenal sebagai daerah wisata religi oleh masyarakat Palu, adanya makam Raja di
dataran tinggi yang juga memiliki potensi pariwisata, dari lokasi makam tersebut dapat melihat
pesona indah Kota Palu dari ketinggian apalagi pada sore hingga malam hari saat lampu-lampu
rumah di tengah kota mulai bersinar menyambut hari yang gelap layaknya bintang
di langit malam. Potensi pariwisata tersebut, yaitu letak Makam Raja Kabonena Pue Njidi
atau Ipue Nyidi yang memerintah di wilayah Palu. Raja Pue Njidi merupakan raja pertama
yang di ‘Islam’kan oleh Datokaramah, namun tidak mudah bagi Datokarama yang
bernama asli Syekh Abdullah Raqie, tokoh yang pertama kali menyebarkan agama Islam
ke Lembah Palu pada abad ke-17. Menurut cerita rakyat singkat cerita Datokaramah
menang dalam pertarungan menanam rica dengan Raja Pue Njidi dalam waktu sehari
semalam, dimana rica yang di tanam Datokaramah lebih cepat matang buahnya sehingga
yang kalah mengikuti ajaran yang menang. Selain itu, Kabonena juga dikenal sebagai
tempat kuliner khas masyarakat Kota Palu atau makanan khas Suku Kaili, seperti Palu
Marah Kaili, Uta Dada, Surabe, Dangedan lain sebagainya.
Wilayah Kabonena pada awalnya dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 19
Tahun 1965 tentang Pembentukan Desapraja sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, dibentuklah desa termasuk
Desa Kabonena. Selama Pemerintahan Desa Kabonena berdiri mengalami beberapa
pergantian kepala desa, berdasarkan informan dari tokoh masyarakat Kabonena yang
masihhidup sampai sekarang ini bahwa yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa
Kabonena adalah sebagai berikut :
1.Lasafani Almarhum dari tahun 1896 s/d Tahun 1900;
2.Tanderante Almarhum dari tahun 1900 s/d Tahun 1917;
3.Yosolele Almarhum dari tahun 1917 s/d Tahun 1954;
4.Daeng Mabara Almarhum dari tahun 1954 s/d Tahun 1960;
5.Simba. Poleganti Almarhum dari tahun 1960 s/d Tahun 1969;
6.Azis SamaleleAlmarhumdari tahun 1969 s/d Tahun 1972;
7.Karim Daeng Sutte Almarhum dari tahun 1972 s/d Tahun 1983.
Pada masa kepemimpinan Karim Dg Sutte sebagai Kepala Desa Kabonena tepatnya pada
tanggal 1 Januari 1980 Desa Kabonena berubah wilayah administratif yang sebelumnya
adalah desa menjadi kelurahan, dimana Kelurahan Kabonena termasuk ke dalam wilayah
Kecamatan Palu Barat Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah, Karim Dg Sutte yang menjabat
sebagai Kepala Desa Kabonena pada saat itu dilantik sebagai Lurah Kabonena yang
pertama. Pembentukan wilayah Kelurahan Kabonena tersebut berdasarkan Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang ditindak lanjuti dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1980 dan Peraturan Daerah Tingkat I
Sulawesi Tengah Nomor 8 Tahun 1981. Dan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Palu
Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kecamatan Ulujadi, Kecamatan Tatanga,
Kecamatan Taweli dan Kecamatan Mantikulore, maka dibentuk Kecamatan Ulujadi
dengan 6 (enam) kelurahan, yaitu 1) Kelurahan Buluri, 2) Kelurahan Donggala Kodi, 3)
Kelurahan Kabonena, 4) Kelurahan Silae, 5) Kelurahan Watusampu dan 6) Kelurahan Tipo.
Pada saat pemekaran kecamatan tersebut Kabonena memiliki luas sebesar ± 560 Ha
yang terdiri atas wilayah dataran tinggi, dataran bergelombang,
dataran datar dan dataran rendah. Adapun komoditi yang ada adalah
pertanian, perkebunan, peternakan, serta perikanan.
Dengan beralihnya wilayah administratif Kabonena dari desa ke
kelurahan, maka beralih juga kepemimpinan di wilayah Kabonena. Berikut
ini nama-nama lurah yang pernah menjabat di Kelurahan Kabonena dari
yang pertama sampai dengan sekarang adalah sebagai berikut :
1.Karim Dg Sutte dari tahun 1981 s/d tahun1983;
2.Zainal Arifin T.H.Moeda dari Tahun 1983 s/d 1986;
3.Thamrin AK. Razak dari Tahun 1986 s/d 1987;
4.Karim Dg Sutte dari Tahun 1987 s/d 1997;
5.Surya Indragni dari Tahun 1997 s/d 1999;
6.Firman Usman dari Tahun 1999 s/d 2002;
7.Usman Laumarang Tahun 2002;
8.Andi Bahar Parampasi dari Tahun 2002 s/d 2006;
9.Hi. Abd. Hafid Djakatare dari Tahun 2006 s/d 2008;
10. Farid Karim, SH dari Tahun 2009 s/d 2012;
11.Nukman K. Lawenga, S.Sos dari Tahun 2012 s/d 2017;
12.Hi. Yasir Syam, S.E., M.M dari Tahun 2017 s/d 2021;
13.Putra Maharandha Airlangga, S.STP., M.H dari Tahun 2021 s/d 2023
14.Eko Setiawan, S. Sos dari Tahun 2023 sampai sekarang.